Jumat, 31 Oktober 2014

Cerpen- Sweet Seventeen

Di depan sana seperti ada fatamorgana, seperti biasan atau bahkan sebuah kilauan yang tak mampu untuk aku tatap. Tetapi rasa penasaran membuatku ingin berlari cepat agar segera tiba disana, di tanggal 24 september 2012. Bayang-bayang tentang sweet seventeen tak dapat terlepas dari benakku. Mereka terus berlari dan berkejaran tanpa henti.
“Empat hari lagi usiaku akan menginjak angka 17, kira-kira sesuatu apa yang akan terjadi di sana ya?” gumam ku kepada Rani.
Rani adalah teman, sahabat, dan keluarga bagi ku. Aku tinggal bersamanya, di sebuah kamar asrama yang terletak tak jauh dari sekolahku, ia selalu mau  mendengar segala keluh kesahku setiap saat, setiap waktu, tak pernah ia menutup telinganya meski hanya sekedar mendengar keluhan-keluhan ku yang tak jelas.
“Entah, semoga ada yang spesial di sana” Jawabnya.
“Amin.” Aku tersenyum gembira karena sesaat masa lalu yang indah melewati fikiranku.
 Itu yang selalu ku harapkan, sebuah harapan yang  muncul ke permukaan ketika orang yang ku sayangi masih bersamaku.      Tepatnya tiga bulan yang lalu, aku masih beranggapan bahwa akan ada sesosok laki-laki yang menemaniku ketika usiaku berada tepat di angka 17, memberi kejutan terindah untukku. Tetapi lagi dan lagi tak ada seorangpun yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Dua bulan sebelum hari peringatan kelahiranku, laki-laki itu mengakhiri hubungan yang pernah kita jalani. Dari situlah semua anggapanku berbalik 180 derajat aku meyakini bahwa tak kan ada sweet seventeen di dalam sejarah kehidupanku.
            Semakin dekat hari yang ku nantikan, suatu hari yang selalu ku harapkan ada secerca cahaya di sana. Secerca cahaya yang dapat membuktikan bahwa “sweet seventeen juga milikku”.
***
Kini tinggal hitungan menit aku akan segera tiba di tanggal 24. Tetapi seketika waktu membeku, mematung,
jarum detik seolah terhenti karena jam yang ada dinding tak ditemani oleh baterai yang masih aktif. Aku melihat ponsel dan disana tertera 23 September 2012 23.45.
Rasa gelisah menghampiriku, aku seperti mendambakan seseorang agar menjadi orang pertama yang menyambutku ketika usiaku berkurang satu tahun. Aku belum mampu memejamkan mata dan malam belum sanggup membawaku ke alam mimpi yang indah. Kepala ku seperti diberi beban yang sangat berat bahkan lebih berat dari berton-ton beban yang setiap hari diangkut oleh kuli angkut jasa. Sebuah harapan beterbangan di otakku, Mengharapkan ucapan ulang tahun yang pertama kali datang dari Angga, seorang laki-laki yang pernah  mengisi hati dan indahnya hari-hariku. Tetapi aku menyadari bahwa itu adalah hal yang absurd karena aku sama sekali tak penting lagi di matanya.
            Bagiku dua bulan bukanlah waktu yang cukup untuk  move on, berpindah ke lain hati terutama dari hati yang sebelumnya ku sayangi dengan penuh ketulusan. Padahal hati yang ku sayangi itu telah menyayangi wanita lain. Aku merasa bodoh setiap kali aku tak mampu mengendapkan perasaan ini.
Air mata mulai terpecahkan karena harapan ku yang semakin menjadi. Penantianku tak berujung pada sebuah berita gembira. Tanpa disadari waktu telah menunjukkan pukul 00.05. Kepala ku semakin terasa sakit. Sebenarnya apa yang ku nantikan? Hingga malam belum juga menjemputku untuk terlelap. Hatiku berbisik bahwa “aku masih menanti ucapan darinya”. Ini bukanlah hal yang mungkin terjadi, aku terus mencoba untuk terlelap menahan semua rasa sakit yang ku rasakan, tetapi rasa sakit ini terus menjalar ke otak dan mengalir dalam peredaran darahku, menghalangi jalanku untuk menuju alam mimpi aku insomnia karena mengharapkan hal absurd itu.
 Perlahan malam mulai merelakan ku untuk tertidur masuk ke alam mimpi.  Tetapi malam tak sepenuhnya membiarkanku terlelap. Angan-angan masih berkeliling di ingatanku berkejaran tanpa henti. Mataku terpejam tapi tidak untuk perasaanku. Aku masih mendengar ketika pesan mulai berdatangan mengujungi ponselku. Aku yakin itu bukan pesan yang berasal dari orang yang aku harapkan malainkan dari teman-temanku. Semua pesan itu aku biarkan berada diponselku tanpa ku baca karena aku berencana akan membacanya esok hari. Akupun tertidur hingga pagi membangunkanku.
***
Langit cerah menyambutku dengan riang, 17 tahun sudah aku dititipkan di dunia ini dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Pesan dari ponsel aku baca satu persatu semuanya berisi ucapan serta do’a dari orang yang berbeda, tetapi tak satupun pesan datang dari Angga.
“Riri selamat ulang tahun ya.” Ucap teman-temanku riuh ketika di sekolah.
“Ri, selamat ulang tahun ditunggu teraktirannya.”
“Iya, makasih yah. Hahaha sip- sip” jawabku dengan senyum termanis yang ku miliki.”
Semua temanku bergiliran menghampiriku, menjabat tanganku, memberi ucapan, serta memberikan do’a. Lagi-lagi Angga tak termasuk dalam antrian sederet manusia yang peduli dengan hari ulang tahunku. Padahal terlihat jelas ketika segerombolan manusia menghampiriku, Angga tak berada jauh dari keramaian itu.
“ Angga belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.” Keluhku pada Rani yang sedang duduk didepan kelas.
“ Iya?” tanggapnya.
“ Iya, hmmm yasudahlah tak penting juga mengharapkan hal itu. toh masih banyak teman-teman lain yang memperdulikanku.” Jawabku mencoba membuat hatiku tegar.
Aku menjalankan amanah dari wanita yang paling aku sayang yang telah melahirkanku ke dunia  yaitu membelanjakan uang untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-temanku yang lain, aku membeli kue lapis talas Bogor sebanyak empat dus. Walaupun sedikit semua temanku dapat merasakan kebahagiaanku juga. Semua temanku mendapatkan sepotong kue, dan akulah yang melabuhkan kue itu ke mulut setiap temanku tak terkecuali Angga.
Angga terlihat malu ketika aku menyodorkan potongan kue berwarna kuning-ungu berlapis keju ke mulutnya, sepotong kue yang memadupadankan warna kesukaanku dan Angga.
“Angga ini!!” seru ku sambil menyodorkan potongan kue.
“Engga ah.”
“Ih nyebelin banget sih tinggal mangap aja juga.” Ejek seorang temanku yang membuat Angga mau membuka mulutnya.
        Adanya adegan suap-suapan itu tak merubah pendirian Angga untuk segera mengucapkan selamat ulang tahun untukku. “Mengapa ia tak menyadarinya bahwa aku sangat menantikan ucapan darinya? ” gerutuku dalam hati.
Hari ini di sekolah sangat menyenangkan, berbagi kebahagiaan bersama teman-temanku. Tetapi hatiku merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Sesuatu itu masih sama seperti yang ku harapkan ketika menit-menit menjelang peringatan hari ulang tahunku.
Aku kembali ke asrama dengan sedikit kehampaan dan kekecewaan, merasa tak percaya bahwa Angga sama sekali tak peduli dengan ulang tahunku.
Hari yang selalu ku nantikan akan segera berakhir. “Apa seperti inikah hari yang selalu membuatku merasa penasaran? HAMPA karena sesuatu yang ku harapkan tak kunjung menghampiriku.” Isakku bersedih.
            Rasa kesal bersaing sengit dengan rasa bahagiaku di hari ini. Rasa kesal itu terus menggerayangi hati dan fikiranku karena Angga. Aku terlelap mengakhiri hari ini dengan sedikit rasa kecewa. Ya, setidaknya hari ini tak seburuk satu tahun lalu ketika aku menangis didepan umum di hari yang seharusnya membuatku bahagia. Karena hari ini aku masih dapat berbagi kebahagiaan bersama  yang lain.
***
“Ran, si Angga belum ngucapin selamat ulang tahun buat aku.”
“Iya ri? Sabar ya.”
“Haha iya ran, kalo bener dia engga ngucapin ini beneran jadi kado terindah buat aku.”
“Masa iya sih dia tega begitu.”
“Ya mungkin aja, abis ini aja udah tanggal 25. Bener-bener nyebelin banget dia.”
Kringgg......
“Tuh ada SMS ri, kali aja dari Angga.”
“Iya, aku liat dulu ya.”
From: Angga  
Received: 25 september 2012 17:11
Sent: 25 September 2012 01.19


Riri
Selamat ulang tahun yaa, sweet seventeen ya ri.
Mungkin aku bukan orang pertama yang ngucapin ini,
Tapi semoga aku bisa jadi yang terakhir ri.
Happy birthday, semoga diulang tahun yang ke 17 ini,
Kamu bisa jadi lebih dewasa, lebih pintar, cita-citanya tercapai,
Lebih dekat lagi sama Allah swt, lebih baik dari sebelumnya
Will you all the best pokonya.
Amin
;)
            Pesan dari Angga menumpahkan genangan air di mataku, rasa haru berkecamuk dihatiku. Menunggu memang hal yang menyakitkan tetapi ketika hal yang ditunggu datang rasanya seperti jalanan aspal di siang hari yang terik terguyur oleh ribuan mililiter kubik air, menyejukkan dan menggembirakan.  Aku dilahirkkan pada 24 September 1995 sekitar pukul 02.00 jika pesan itu tidak tersangkut ditengah jalan Angga adalah orang terakhir yang memberi ucapan.
Ternyata inilah hal yang membuatku penasaran selama ini. Angga memang bukan lagi kekasihku tetapi ia tetap menemani dan memberikan kejutan  ketika usiaku tepat 17 tahun walau caranya sedikit menyakitkan. Mendapat ucapan ulang tahun terakhir dari orang yang ku harap menjadi yang terakhir pula dalam hidupku  adalah hadiah terindah.
Dan ternyata dibulan ini Angga juga telah menyiapkan kado untukku. Kado berlapis kertas berwarna ungu telah berada di mejaku. Perlahan aku membuka bungkusan itu, tertera sepucuk puisi disana. Perlahan aku membacanya, kata perkata mulai tersisir membuatku meneteskan air mata bahagia. Semua hal yang menyangkut Angga, selalu menghadirkan air mata di hidupku. Entah itu air mata bahagia ataupun air mata kesedihan.
“Terimakasih Angga, aku masih menyayangimu meskipun aku tau menyayangimu adalah hal yang sia-sia karena kamu telah bahagia bersama wanita lain. Karena kamu aku dapat merasakan sweet seventeen yang selama ini didambakan oleh setiap remaja. Dan itu semua terjadi di bulan September.” Isakku penuh haru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar