“Empat hari lagi usiaku akan menginjak angka 17, kira-kira sesuatu apa yang akan
terjadi di sana ya?” gumam ku kepada Rani.
Rani
adalah teman, sahabat, dan keluarga bagi ku. Aku tinggal bersamanya, di sebuah
kamar asrama yang terletak tak jauh dari sekolahku, ia selalu mau mendengar segala keluh kesahku setiap saat,
setiap waktu, tak pernah ia menutup telinganya meski hanya sekedar mendengar keluhan-keluhan
ku yang tak jelas.
“Entah,
semoga ada yang spesial di sana” Jawabnya.
“Amin.” Aku tersenyum gembira karena
sesaat masa lalu yang indah melewati fikiranku.
Itu yang selalu ku harapkan, sebuah harapan
yang muncul ke permukaan ketika orang
yang ku sayangi masih bersamaku. Tepatnya
tiga bulan yang lalu, aku masih beranggapan bahwa akan ada sesosok laki-laki yang
menemaniku ketika usiaku berada tepat di angka 17, memberi kejutan terindah
untukku. Tetapi lagi dan lagi tak ada seorangpun yang dapat memperkirakan apa
yang akan terjadi beberapa saat ke depan. Dua bulan sebelum hari peringatan
kelahiranku, laki-laki itu mengakhiri hubungan yang pernah kita jalani. Dari
situlah semua anggapanku berbalik 180 derajat aku meyakini bahwa tak kan ada
sweet seventeen di dalam sejarah kehidupanku.
Semakin dekat hari yang ku nantikan,
suatu hari yang selalu ku harapkan ada secerca cahaya di sana. Secerca cahaya
yang dapat membuktikan bahwa “sweet seventeen juga milikku”.
***
Kini
tinggal hitungan menit aku akan segera tiba di tanggal 24. Tetapi seketika
waktu membeku, mematung,
Rasa
gelisah menghampiriku, aku seperti mendambakan seseorang agar menjadi orang pertama
yang menyambutku ketika usiaku berkurang satu tahun. Aku belum mampu memejamkan
mata dan malam belum sanggup membawaku ke alam mimpi yang indah. Kepala ku
seperti diberi beban yang sangat berat bahkan lebih berat dari berton-ton beban
yang setiap hari diangkut oleh kuli angkut jasa. Sebuah harapan beterbangan di
otakku, Mengharapkan ucapan ulang tahun yang pertama kali datang dari Angga,
seorang laki-laki yang pernah mengisi
hati dan indahnya hari-hariku. Tetapi aku menyadari bahwa itu adalah hal yang
absurd karena aku sama sekali tak penting lagi di matanya.
Bagiku dua bulan bukanlah waktu yang
cukup untuk move on, berpindah ke lain hati terutama dari hati yang sebelumnya
ku sayangi dengan penuh ketulusan. Padahal hati yang ku sayangi itu telah
menyayangi wanita lain. Aku merasa bodoh setiap kali aku tak mampu mengendapkan
perasaan ini.
Air
mata mulai terpecahkan karena harapan ku yang semakin menjadi. Penantianku tak
berujung pada sebuah berita gembira. Tanpa disadari waktu telah menunjukkan
pukul 00.05. Kepala ku semakin terasa sakit. Sebenarnya apa yang ku nantikan?
Hingga malam belum juga menjemputku untuk terlelap. Hatiku berbisik bahwa “aku
masih menanti ucapan darinya”. Ini bukanlah hal yang mungkin terjadi, aku terus
mencoba untuk terlelap menahan semua rasa sakit yang ku rasakan, tetapi rasa
sakit ini terus menjalar ke otak dan mengalir dalam peredaran darahku,
menghalangi jalanku untuk menuju alam mimpi aku insomnia karena mengharapkan
hal absurd itu.
Perlahan malam mulai merelakan ku untuk
tertidur masuk ke alam mimpi. Tetapi malam
tak sepenuhnya membiarkanku terlelap. Angan-angan masih berkeliling di
ingatanku berkejaran tanpa henti. Mataku terpejam tapi tidak untuk perasaanku.
Aku masih mendengar ketika pesan mulai berdatangan mengujungi ponselku. Aku
yakin itu bukan pesan yang berasal dari orang yang aku harapkan malainkan dari
teman-temanku. Semua pesan itu aku biarkan berada diponselku tanpa ku baca
karena aku berencana akan membacanya esok hari. Akupun tertidur hingga pagi
membangunkanku.
***
Langit
cerah menyambutku dengan riang, 17 tahun sudah aku dititipkan di dunia ini
dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. Pesan dari ponsel aku baca satu
persatu semuanya berisi ucapan serta do’a dari orang yang berbeda, tetapi tak
satupun pesan datang dari Angga.
“Riri
selamat ulang tahun ya.” Ucap teman-temanku riuh ketika di sekolah.
“Ri,
selamat ulang tahun ditunggu teraktirannya.”
“Iya,
makasih yah. Hahaha sip- sip” jawabku dengan senyum termanis yang ku miliki.”
Semua
temanku bergiliran menghampiriku, menjabat tanganku, memberi ucapan, serta
memberikan do’a. Lagi-lagi Angga tak termasuk dalam antrian sederet manusia
yang peduli dengan hari ulang tahunku. Padahal terlihat jelas ketika
segerombolan manusia menghampiriku, Angga tak berada jauh dari keramaian itu.
“
Angga belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.” Keluhku pada Rani yang sedang
duduk didepan kelas.
“
Iya?” tanggapnya.
“
Iya, hmmm yasudahlah tak penting juga mengharapkan hal itu. toh masih banyak
teman-teman lain yang memperdulikanku.” Jawabku mencoba membuat hatiku tegar.
Aku
menjalankan amanah dari wanita yang paling aku sayang yang telah melahirkanku
ke dunia yaitu membelanjakan uang untuk
berbagi kebahagiaan dengan teman-temanku yang lain, aku membeli kue lapis talas
Bogor sebanyak empat dus. Walaupun sedikit semua temanku dapat merasakan
kebahagiaanku juga. Semua temanku mendapatkan sepotong kue, dan akulah yang
melabuhkan kue itu ke mulut setiap temanku tak terkecuali Angga.
Angga
terlihat malu ketika aku menyodorkan potongan kue berwarna kuning-ungu berlapis
keju ke mulutnya, sepotong kue yang memadupadankan warna kesukaanku dan Angga.
“Angga
ini!!” seru ku sambil menyodorkan potongan kue.
“Engga
ah.”
“Ih
nyebelin banget sih tinggal mangap aja juga.” Ejek seorang temanku yang membuat
Angga mau membuka mulutnya.
Adanya adegan suap-suapan itu tak
merubah pendirian Angga untuk segera mengucapkan selamat ulang tahun untukku.
“Mengapa ia tak menyadarinya bahwa aku sangat menantikan ucapan darinya? ”
gerutuku dalam hati.
Hari
ini di sekolah sangat menyenangkan, berbagi kebahagiaan bersama teman-temanku.
Tetapi hatiku merasa seperti ada sesuatu yang kurang. Sesuatu itu masih sama
seperti yang ku harapkan ketika menit-menit menjelang peringatan hari ulang
tahunku.
Aku
kembali ke asrama dengan sedikit kehampaan dan kekecewaan, merasa tak percaya
bahwa Angga sama sekali tak peduli dengan ulang tahunku.
Hari
yang selalu ku nantikan akan segera berakhir. “Apa seperti inikah hari yang selalu
membuatku merasa penasaran? HAMPA karena sesuatu yang ku harapkan tak kunjung menghampiriku.”
Isakku bersedih.
Rasa kesal bersaing sengit dengan
rasa bahagiaku di hari ini. Rasa kesal itu terus menggerayangi hati dan
fikiranku karena Angga. Aku terlelap mengakhiri hari ini dengan sedikit rasa
kecewa. Ya, setidaknya hari ini tak seburuk satu tahun lalu ketika aku menangis
didepan umum di hari yang seharusnya membuatku bahagia. Karena hari ini aku
masih dapat berbagi kebahagiaan bersama yang lain.
***
“Ran,
si Angga belum ngucapin selamat ulang tahun buat aku.”
“Iya
ri? Sabar ya.”
“Haha
iya ran, kalo bener dia engga ngucapin ini beneran jadi kado terindah buat aku.”
“Masa
iya sih dia tega begitu.”
“Ya
mungkin aja, abis ini aja udah tanggal 25. Bener-bener nyebelin banget dia.”
Kringgg......
“Tuh
ada SMS ri, kali aja dari Angga.”
“Iya, aku liat dulu ya.”
From:
Angga
Received:
25 september 2012 17:11
Sent:
25 September 2012 01.19
Riri
Selamat ulang tahun
yaa, sweet seventeen ya ri.
Mungkin aku bukan orang
pertama yang ngucapin ini,
Tapi semoga aku bisa
jadi yang terakhir ri.
Happy birthday, semoga
diulang tahun yang ke 17 ini,
Kamu bisa jadi lebih
dewasa, lebih pintar, cita-citanya tercapai,
Lebih dekat lagi sama
Allah swt, lebih baik dari sebelumnya
Will you all the best
pokonya.
Amin
;)
Pesan dari Angga menumpahkan
genangan air di mataku, rasa haru berkecamuk dihatiku. Menunggu memang hal yang
menyakitkan tetapi ketika hal yang ditunggu datang rasanya seperti jalanan
aspal di siang hari yang terik terguyur oleh ribuan mililiter kubik air,
menyejukkan dan menggembirakan. Aku
dilahirkkan pada 24 September 1995 sekitar pukul 02.00 jika pesan itu tidak
tersangkut ditengah jalan Angga adalah orang terakhir yang memberi ucapan.
Ternyata
inilah hal yang membuatku penasaran selama ini. Angga memang bukan lagi
kekasihku tetapi ia tetap menemani dan memberikan kejutan ketika usiaku tepat 17 tahun walau caranya
sedikit menyakitkan. Mendapat ucapan ulang tahun terakhir dari orang yang ku
harap menjadi yang terakhir pula dalam hidupku adalah hadiah terindah.
Dan
ternyata dibulan ini Angga juga telah menyiapkan kado untukku. Kado berlapis
kertas berwarna ungu telah berada di mejaku. Perlahan aku membuka bungkusan
itu, tertera sepucuk puisi disana. Perlahan aku membacanya, kata perkata mulai
tersisir membuatku meneteskan air mata bahagia. Semua hal yang menyangkut
Angga, selalu menghadirkan air mata di hidupku. Entah itu air mata bahagia
ataupun air mata kesedihan.
“Terimakasih
Angga, aku masih menyayangimu meskipun aku tau menyayangimu adalah hal yang
sia-sia karena kamu telah bahagia bersama wanita lain. Karena kamu aku dapat
merasakan sweet seventeen yang selama ini didambakan oleh setiap remaja. Dan
itu semua terjadi di bulan September.” Isakku penuh haru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar