Selasa, 28 April 2015

Tugas Artikel Mengenai Wawasan Nusantara


Edukasi

Perguruan Tinggi
Indonesia Butuh Banyak Sarjana Teknik!

Mahasiswa BASE (BINUS ASO School of Engineering) saat melakukan tur lapangan
Kamis, 23 April 2015 | 11:46 WIB

KOMPAS.com - Indonesia terkenal sebagai surga investasi dunia. Tingginya jumlah sumber daya manusia dan kekayaan alam yang melimpah, juga tawaran menggiurkan tentang harga tenaga kerja produktif yang kompetitif, menjadi alasan utama para investor dunia menanamkan modalnya di sini.

Sayangnya, di tengah perkembangan industri dan teknologi yang semakin pesat, Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia kompeten, terutama di sarjana bidang engineering. Padahal, mereka merupakan penggerak utama dunia industri.

Berdasarkan riset Said Didu pada 2011, pasokan sarjana teknik dalam negeri hanya sebesar 37.000 per tahun. Padahal, masih menurut riset yang sama, pada 2010-2015 rata-rata kebutuhan sarjana teknik di Indonesia meningkat menjadi 57.000 per tahun.

Sementara itu, pada periode 2015-2020 diperkirakan melonjak menjadi rata-rata 90.500 per tahun. Padahal, pada periode tersebut perkiraan jumlah sumber daya manusia yang dapat disediakan hanya 75.000. Artinya, Indonesia membutuhkan tambahan sumber daya muda untuk mengejar ketertinggalan itu.

Melihat kondisi itu, ASO College Group, sebagai salah satu penyedia institusi teknik di Jepang segera memperluas investasinya ke Indonesia dalam bentuk pendidikan. Alasan lainnya adalah degradasi pertumbuhan penduduk Jepang yang menyebabkan mereka kekurangan sumber daya manusia muda di tengah kebutuhan industri otomotif akan para insinyur baru.

Tahun lalu rencana ASO College Grop terwujud setelah mengukuhkan kerjasamanya dengan Binus University. Kerjama itub bertujuan memcetak sarjana-sarjana teknik yang kompeten, kompetitif dan siap terjun langsung ke dunia industri bertaraf internasional.

"Kebutuhan akan engineer di Indonesia semakin meningkat dengan banyaknya investasi asing yang terus tumbuh. Artinya, kita harus mencetak banyak sarjana teknik yang kompetitif," ujar Sofyan Tan, Head of Automotive and Robotics Engineering Program Binus – ASO School of Engineering (BASE) saat ditemui KOMPAS.com di Kampus Kijang, Senin (20/4/2015).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi. Perusahaan otomotif merupakan pembeli lahan Kawasan Industri terbesar, sekitar 72 persen.
Industri otomotif

Masih menurut Sofyan, saat ini investasi asing di industri otomotif terus berkembang pesat, terutama dari Jepang. Karena itu, Indonesia perlu mengambil peluang emas tersebut.

Perkembangan industri otomotif, jelas Sofyan, tidak hanya melulu dari perusahaan-perusahaan besar seperti Honda, Toyota atau Daihatsu. Kini, industri-industri yang masuk semakin berkembang, terutama produsen utama komponen mobil, antara lain Denso, Aisin, Showa, Yorozu, Unipress, Yazaki, dan lainnya.

"Walau terdengar kurang familiar, perananan industri-industri itu sangat penting, karena merekalah yang memproduksi komponen mobil. Misalnya, menyediakan komponen rem mobil, AC, dan banyak lagi. Jadi, sebenarnya untuk membuat satu jenis kendaraan saja dibutuhkan sinergi dari banyak industri otomotif. Di sinilah peluang kita," kata Sofyan.

Ke depan produk otomotif akan sarat dengan penggunaan teknologi robot yang tertanam dalam kendaraan maupun pada proses produksinya. Teknologi robot ini, menurut Sofyan, memungkinkan berkembanganya berbagai fitur cerdas pada kendaraan atau efisiensi proses produksi pada kendaraan dan komponennya sendiri.

"Karena itu, saat ini engineer yang mumpuni dalam mendesain otomatisasi kendaraan maupun proses produksi seperti itu sangat dibutuhkan di industri otomotif dan  industri manufaktur lainnya," ujarnya.

AFP PHOTO / BAY ISMOYO Ilustrasi: industri otomotif
Industri kreatif

Saat ini, industri kreatif menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian bangsa. Dengan menggabungkan kemajuan teknologi, seni bentuk dan pengetahuan untuk menganalisa kebutuhan manusia masa kini, industri ini telah melahirkan banyak inovasi baru.

Seiring berkembangnya kebutuhan pasar, produk-produk yang diluncurkan tidak hanya berorientasi pada fungsi, tapi juga estesika sehingga industri ini berpotensi untuk tumbuh mantap dan kian berwarna. Apalagi, seiring semakin tingginya tingkat pendidikan di Indonesia, apresiasi terhadap seni pun semakin besar. Hal tersebut memberi ruang seluas-luasnya bagi para pelaku industri seni untuk unjuk gigi dan mengekspresikan karyanya, termasuk para insinyur dengan kemampuan rekayasa teknisnya.

Menurut Gatot Suharjanto, Head of Product Design Engineering Program, Binus–ASO School of Engineering (BASE), masih ada gap antara kreatifitas (segi estetika) dan kemampuan rekayasa teknik (engineering). Padahal, dalam menciptakan suatu, estetika tak boleh sampai mengesampingkan fungsi utama produk bagi manusianya (needs), begitu pun sebaliknya.

"Untuk menyatukan gap inilah Product Design Engineering lahir. Karena pada dasarnya, untuk menciptakan product design yang utuh, dibutuhkan keduanya," tutur Gatot saat menjelaskan perbedaan Product Design dan Product Design Engineering.

Menurutnya, ilustrasi sederhananya dapat dilihat pada proses desain sebuah sepeda balap. Perhitungan aerodinamika, presisi, kemampuan rem, ground clearence, jenis bahan, gigi pada sepeda balap membutuhkan tingkat akurasi dan kalkulasi teknik yang tidak sederhana.

"Proses selanjutnya adalah inovasi design produk yang menarik dan berbeda sehingga laku di pasaran. Kalau hanya berdasarkan engineering, ya produk sepeda hanya akan jadi seperti itu. Itu saja,” tambahnya.

Hal sama juga, tambah Gatot, berlaku untuk mendesain produk-produk lain, misalnya produk rumah tangga, desain lampu, aksesoris, boneka, sektor otomotif, dan masih banyak lagi. Dia berharap, dengan adanya dua program baru tersebut, didukung kemajuan teknologi Jepang ASO College Grop, Indonesia dapat mencetak sarjana-sarjana teknik mumpuni sesuai kebutuhan pertumbuhan pasar.

Penulis: Adhis Anggiany Putri S
Editor: Latief

Tanggapan mengenai Artikel ini:
Sebelum menanggapi artikel ini,  alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui pengertian dari wawasan nusantara terlebih dahulu. Berikut adalah pengertian dari wawasan nusantara:
Menurut kelompok kerja wawasan nusantara, yang diusulkan menjadi ketetapan majelis permusyawaratan rakyat dan dibuat di Lemhanas tahun 1999 adalah sebagai berikut: “cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang berseragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelengarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.” 
Jika ditinjau dari pengertian wawasan nusantara dan mengaitkannya dengan artikel "Indonesia Butuh Banyak Sarjana Teknik" memberikan pandangan bahwa Indonesia memang membutuhkan banyak lulusan yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Hal ini bukan hanya sekedar menjadi kepentingan individu melainkan ini merupakan kepentingan nasional, karena dengan adanya tenaga lulusan yang kompeten dapat membuat Indonesia menjadi tuan rumah di Negara sendiri. Menjadi tenaga ahli di negara sendiri, BUKAN menjadi "pembantu" di rumah sendiri. Dengan demikian Indonesia akan menjadi negara maju  yang bukan hanya menjadi pekerja yang dipekerjakan oleh para investor asing, melainkan menjadi tenaga ahli yang mempekerjakan tenaga asing dan menjadi investor bagi Negara sendiri.

Daftar Pustaka: 
http://edukasi.kompas.com/read/2015/04/23/11461401/Indonesia.Butuh.Banyak.Sarjana.Teknik.

Tugas Paper Wawasan Nusantara

TUGAS PAPER
Berkaitan dengan Wawasan Nusantara

A.   Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Keanekaragaman kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berupa pendapat, kepercayaan, hubungan dan sebagainya memerlukan suatu perekat agar bangsa yang bersangkutan dapat bersatu untuk memelihara keutuhan negaranya. Suatu Negara dalam menyelenggarakan kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya, yang didasarkan atas hubungan timbale balik atau keterkaitan antara filosofi bangsa, idiologi, aspirasi, dan cita-cita yang dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat, budaya dan tradisi, keadaan alam dan wilayah serta pengalaman sejarah.
Upaya pemerintah dan rakyat menyelenggarakan kehidupannya memerlukan suatu konsepsi berupa wawasan nasional yang dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan hidup, keutuhan wilayah serta jati diri.
Kata wawasan berasal dari bahasa Jawa yaitu wawas (mawas) yang artinya melihat atau memandang, jadi kata wawasan dapat diartikan sebagai cara pandang atau cara melihat. Wawasan Nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah menegara tentang diri dan lingkungannya dalam ekstensinya yang serba terhubung (interaksi dan interelasi) serta pembangunannya di dalam bernegara di tengah-tengah lingkungannya baik nasional, regional maupun global.
2.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimana asas wawasan nusantara?
b.      Bagaimana kedudukan, fungsi dan tujuan wawasan nusantara?
c.       Bagaimana era baru kapitalisme?
d.      Bagaimana keberhasilan implementasi wawasan nusantara?
3.      Tujuan Penulisan
a.       Agar dapat memahami dan menjelaskan mengenai asas, arah pandang wawaasan nusantara.
b.      Agar dapat memahami dan menjelaskan mengenai kedudukan, fungsi, dan tujuan wawasan nusantara.
c.       Agar dapat memahami dan menjelaskan mengenai tantangan implementasi wawasan nusantara dengan adanya era baru kapitalisme.
d.      Agar dapat memahami dan menjelaskan mengenai keberhasilan implementasi wawasan nusantara.
4.      Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan paper ini adalah dengan menggunakan literatur dari berbagai sumber-sumber yang tertera dalam daftar pustaka.

B.   Pembahasan
1.      Asas Wawasan Nusantara
Asas wawasan nusantara merupakan ketentuan-ketentuan dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara dan diciptakan agar terwujud demi tetap taat setianya komponen atau unsur pembentuk bangsa Indonesia (suku/golongan) terhadap kesepakatan (commitment) bersama. Asas wawasan nusantara (wasantara) terdiri dari:
a.       Kepentingan atau tujuan yang sama
b.      Keadilan
c.       Kejujuran
d.      Solidaritas
e.       Kerjasama
f.       Kesetiaan terhadap kesepakatan
Dengan latar belakang budaya, sejarah serta kondisi dan konsentelasi geografi serta memperhatikan perkembangan lingkungan strategis, maka arah pandang wawasan nusantara meliputi:
a.       Ke dalam
Bangsa Indonesia harus peka dan berusaha mencegah dan mengatasi sedini mungkin faktor-faktor penyebab timbulnya disintegrasi bangsa dan mengupayakan tetap terbina dan terpeliharanya persatuan dan kesatuan.
Tujuannya adalah menjamin terwujudnya persatuan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional baik aspek alamiah maupun aspek sosial.
b.      Keluar
Bangsa Indonesia dalam semua aspek kehidupan internasional harus berusaha untuk mengamankan kepentingan nasional dalam semua aspek kehidupan baik politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan demi tercapainya tujuan nasional.
Tujuannya adalah menjamin kepentingan nasional dalam dunia yang serba berubah dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.
2.      Kedudukan Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara merupakan ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh rakyat dengan tujuan agar tidak terjadi penyesatan dan penyimpangan dalam rangka mencapai dan mewujudkan tujuan nasional.
Wawwasan Nusantara dalam paradigma nasioanal dapat dilihat dari hirarkhi paradigma nasional sebagai berikut:
a.       Pancasila (dasar Negara) sebagai Landasan Idiil.
b.      UUD 1995 (Konstitusi Negara) sebagai Landasan Konstitusional.
c.       Wasantara (Visi bangsa) sebagai Landasan Visioner.
d.      Ketahanan Nasional (Konsepsi Bangsa) sebagai Landasan Konsepsional.
e.       GBHN (Kebijaksanaan Dasar Bangsa) sebagai Landasan Operasional.
Fungsi wawasan nusantara adalah pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan, dan perbuatan, baik bagi penyelenggara Negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat dalm kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.
Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala bidang dari rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah.
3.      Implementasi Wawasan Nusantara
Penerapan wawasan nusantara harus tercermin pada pola fikir, pola sikap dan pola tindakan yang senantiasa mendahulukan kepentingan Negara.
a.       Implementasi dalam kehidupan politik adalah menciptakan iklim penyelenggara Negara yang sehat dan dinamis, mewujudkan pemerintahan yang kuat, aspiratif dan dipercaya.
b.      Implementasi dalam kehidupan ekonomi adalah menciptakan tatanan ekonomi yang benar-benar menjamin pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara merata dan adil.
c.       Implementasi dalam kehidupan sosial budaya adalah menciptakan sikap batiniah dan lahiriah yang mengakui, menerima dan menghormati segala bentuk perbedaan sebagai kenyataan yang hidup di sekitarnya dan merupakan karunia Sang Pencipta.
d.      Implementasi dalam kehidupan pertahanan keamanan adalah menumbuhkan kesadaran cinta tanah air dan membentuk sikap bela Negara pada setiap WNI.
Sosialisaisi wawasan nusantara
a.       Menurut sifat atau cara penyampaiannya:
1.)    Langsung, dapat dilakukan dengan ceramah, diskusi atau tatap muka.
2.)    Tidak langsung, dapat dilakukan melalui media massa.
b.      Menurut metode penyampaiannya:
1.)    Ketauladanan
2.)    Edukasi
3.)    Komunikasi
4.)    Integrasi
Materi wasantara disesuaikan dengan tingkat dan macam pendidikan serta lingkungannya supaya bisa dimengerti dan dipahami.
Tantangan Implementasi Wawasan Nusantara:
a.       Pemberdayaan masyarakat
John Naisbit dalam buku “Global Paradox” menyatakan Negara harus dapat memberikan peranan sebesar-besarnya kepada rakyat.
Pemberdayaan masyarakat dalam arti memberikan peranan dalam bentuk aktivitas dan partisipasi masyarakat untuk mencapai tujuan nasional hanya dapat dilaksanakan oleh Negara-negara maju dengan buttom-up planning, sedang untuk Negara berkembang dengan top-down planning karena adanya keterbatasan kualitas sumber daya manusia, sehingga diperlukan landasan operasional berupa GBHN.
Kondisi nasional (pembangunan) yang tidak merata mengakibatkan keterbelakangan dan ini merupakan ancaman bagi integras. Pemberdayaan masyarakat diperlukan terutama untuk daerah-daerah teringgal.
b.      Dunia tanpa batas
1.)    Perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)
Mempengaruhi pola fikir, pola sikap dan pola tindak masyarakat dalam aspek kehidupan. Kualitas sumber daya manusia merupakan tantangan serius dalam menghadapi tantangan global.
2.)    Kenichi Omahe dalam buku “Borderless Word” dan “The End of National State” menyatakan: dalam perkembangan masyarakat global, batas-batas wilayah Negara dalam arti geografi dan politik relatif masih tetap, namun kehidupan dalam satu Negara tidak mungkin dapat membatasi kekuatan global yang berupa informasi, investasi, industri dan konsumen yang makin individual. Untuk dapat menghadapi kekuatan global suatu Negara harus mengurangi peranan-peranan pemerintah pusat dan lebih memberikan peranan kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
3.)    Perkembangan iptek dan perkembangan masyarakat global dikaitkan dengan dunia tanpa batas meupakan tantangan wawasan nusantara, mengingat perkembangan tersebut akan dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam pola fikir, pola sikap dan pola tindak di dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.
c.       Era Baru Kapitalisme
1.)    Sloan dan Zureker
Dalam bukunya “Dictonary of Economics” menyatakan kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan aras hak milik swasta atas macam-macam barang dan kebebasan individu untuk mengadakan perjanjian dengan pihak lain dan untuk berkecimpung dalam aktivitas-aktivitas ekonomi yang dipilihnya sendiri berdasarkan kepentingan sendiri serta untuk mencapai laba guna diri sendiri.
Di era baru kapitalisme, sistem ekonomi untuk mendapatkan keuntungan dengan melakukan aktivitas-aktivitas secara luas dan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat sehingga diperlukan strategi baru yaitu keseimbangan.
2.)    Laster Thurow
Dalam bukunya “The Future of Capitalism” menyatakan bahwa: untuk dapat bertahan dalam era baru kapitalisme harus membuat strategi baru yaitu keseimbangan (balance) antara paham individu dan paham sosialis. Di era baru kapitalisme, Negara-negara kapitalis dalam rangka memperthankan eksistensinya di bidang ekonomi menekan Negara-negara berkembang dengan menggunakan isu-isu global yaitu demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup.
d.      Kesadaran Warga Negara
1.)    Pandangan Indonesia tentang hak dan kewajiban
Manusia Indonesia mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Hak dan kewajiban dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan.
2.)    Kesadaran bela negera
Dalam mengisi kemerdekaan perjuangan yang dilakukan adalah perjuangan non  fisik untuk memerangi keterbelakangan, kemiskinan, kesenjangan sosial, memberantas KKN, menguasai Iptek, meningkatkan SDM, transparan dan memelihara persatuan.
Dalam perjuangan non fisik, kesadaran bela Negara mengalami penurunan yang tajam dibandingkan pada perjuangan fisik.
4.      Prospek Implementasi Wawasan Nusantara
Berdasarkan teori mengemukakan pendangan global sebagai berikut:
a.       Global Paradox menyatakan Negara harus mampu memberikan peranan sebesar-besar kepada rakyatnya.
b.      Borderless World dan The End of National State menyatakan batas wilayah geografi relative tetap, tetapi kekuatan ekonomi dan budaya global akan menembus batas tersebut. Pemerintah daerah perlu diberi peranan lebih berarti.
c.       The Future of Capitalsm menyatakan strategi baru kapitalisme adalah mengupayakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan masyarakat serta antara Negara maju dengan Negara berkembang.
d.      Building Win Win World (Henderson) menyatakan perlu ada perubahan nuansa perang ekonomi, menjadikan masyarakat dunia yang lebih bekerjasama, memanfaatkan teknologi yang bersih lingkungan serta pemerintahan yang demokratis.
e.       The Second Curve (Ian Morison) menyatakan dalam era baru timbul adanya peranan yang lebih besar dari pasar, peranan konsumen dan teknologi baru yang mengantar terwujudnya masyarakat baru.
Dari rumusan-rumusan di atas ternyata tidak ada satupun yang menyatakan tentang perlu adanya persatuan sehingga akan berdampak konflik antar-bangsa karena kepentingan nasionalnya tidak terpenuhi. Dengan demikian wawasan nusantara sebagai cara pandang bangsa Indonesia dan sebagai visi nasional yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap valid baik saat sekarang maupun mendatang, sehingga prospek wawasan nusantara dalam era mendatang masih tetap relevan dnegan norma-norma global.
Dalam implementasinya perlu lebih diberdayakan peranan daerah dan rakyat kecil, dan terwujudnya apabila dipenuhi adanya faktor-faktor dominan: keteladanan kepemimpinan nasional, pendidikan berkualitas dan bermoral kebangsaan, media massa yang memberikan informasi dan kesan yang positif, keadilan penegakan hukum dalam arti pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
5.      Keberhasilan Implementasi Wawasan Nusantara
Diperlukan kesadaran Warga Negara Indonesia untuk:
a.       Mengerti, memahami dan menghayati tentang hak dan kewajiban warganegara serta hubungan warga Negara dengan Negara, sehingga sadar sebagai bangsa Indonesia.
b.      Mengerti, memahami dan menghayati tentang bangsa yang telah menegara, bahwa dalam menyelenggarakan kehidupan memerlukan konsepsi wawasan nusantara sehingga sadar sebagai warga Negara yang memiliki cara pandang.
Agar kedua hal dapat terwujud, diperlukan sosialisasi dengan program yang teratur, terjadwal dan terarah.

C.      Penutup
1.      Kesimpulan
a.       Asas wawasan nusantara terdiri dari: kepentingan atau tujuan yang sama, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama dan kesetiaan terhadap kesepakatan.
b.      - Kedudukan wasantara (Visi bangsa) sebagai Landasan Visioner
-    Fungsi wawasan nusantara adalah pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan, dan perbuatan, baik bagi penyelenggara Negara.
-    Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala bidang dari rakyat Indonesia.
c.       Penerapan implementasi Wawasan Nusantara harus tercermin pada pola fikir, pola sikap dan pola tindakan yang senantiasa mendahulukan kepentingan Negara. Tantangan implementasi meliputi: pemberdayaan masyarakat, dunia tanpa batas, era baru kapitalisme, dan kesadaran warga Negara.
d.      Untuk mendapatkan keberhasilan implementasi wawasan nusantara diperlukan adanya kesadaran bagi tiap-tiap warga Negara.
2.      Saran
Kepada pembaca dan penulis diharapkan dapat mengetahui, memahami dan menghayati wawasan mengenai Wawasan Nusantara.
D.   Daftar pustaka
Muchiji, Achmad, et al. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Seri Diktat Kuliah. Jakarta: Penerbit Gunadarma.